Di Wilayah RW 12 Depok Maharaja saat digelar pesta Demokrasi Pemilihan calon legislatif (pemilu legislatif) 2009 terdapat dua TPS yaitu TPS 41 dan TPS 42.Partisipasi warga dalam mensukseskan pemilu 2009 sangat luar biasa, untuk ukuran komplek perumahan. Semua berpartisipasi demi terselenggaranya pesta demokrasi untuk memilih calon anggota legislatif ini.
Ada yang aneh untuk pemilu 2009 ini, KPU tidak menyediakan bilik TPS, jadi warga harus membangun sendiri TPS demikian penjelasan ketua PPS Kelurahan Ru'yat Syuhada ketika penjelasan akhir beberapa hari menjelang Pemilu di kantor Kelurahan.
Ru'yat menjanjikan setiap bilik akan diganti dengan uan Rp 25.000,- jadi untuk empat bilik disediakan Rp 100.000,-. Namun sampai penghitungan pemilu hampir akhir uang tersebut tidak pernah keluar, sehingga warga harus menanggung biaya pemilu di TPS itu.
Jika per TPS Rp 100.000,- padahal di kelurahan rangkapan jaya ada 48 TPS, jadi siapa yang menggelapkan uang sebesar itu?
BANDUNG – Kampanye calon anggota legislatif saat ini masih dilakukan secara konvensional dan cenderung kurang efektif. Penempatan spanduk dan baliho di lokasi-lokasi publik justru menjadi kontra produktif dan melahirkan antipati dari masyarakat lantaran tidak ditata dengan baik.’Kampanye menggunakan pendekatan komunitas, turun langsung berbaur dengan masyarakat, dan dialog langsung tidak hanya mampu menumbuhkan awareness calon pemilih, tapi juga dapat meyakinkan calon pemilih agar tertambat hatinya pada kandidat atau caleg tersebut,”ungkap praktisi media dan komunikasi strategis, Guntur Subagja, dalam interview on-air RRI Bandung, Sabtu (31/1/09) pagi.
Spanduk, sebenarnya dapat menjadi media untuk membangun awareness dan branding caleg. Namun, karena bentuk, konten, dan penempatan spanduk yang relatif seragam membuat tujuan yang hendak dicapai tidak terwujud. Justru sebaliknya berjejernya spanduk caleg di tempat-tempat publik malah menimbulkan suasana semrawut, yang dapat membuat masyarakat tidak nyaman.
Guntur yang juga managing Director GMN Strategic ini memaparkan, banyak cara yang dapat dilakukan caleg untuk berkampanye. Selain pendekatan komunitas dan pertemuan langsung, caleg juga dapat berkampanye melalui pesan singkat (SMS), tulisan di media massa, atau melalui kegiatan sosial yang langsung manfaatnya dirasakan masyarakat. SMS dapat menjadi salah satu alternatif media yang efektif karena ada sekitar 120 juta pelanggan handphone di Indonesia. ”Kalo Obama membangun jejaring pemilih melalui internet, maka di Indonesia mungkin bisa melakukannya melalui SMS,”katanya. Pengguna internet di Indonesia belum banyak, meski kini terdapat sekitar 25 juta pengguna internet dan terus tumbuh.
Dengan pemilihan berdasarkan suara terbanyak, caleg dituntut mampu membangun personal branding dengan baik dan melahirkan citra yang positif kepada calon pemilihnya. Dengan pola suara terbanyak ini, masyarakat akan memilih caleg-caleg yang benar-benar dikenal atau populer. Ini menguntungkan bagi caleg yang sudah sejak lama berkomunikasi dan membangun jaringan dengan komunitas dan masyarkat, tokoh masyarakat seperti kyai, ulama, atau, guru, dan juga menguntungkan caleg dari kalangan figur publik seperti artis, bitang film atau sinetron dan selebritis lainnya.
Interview yang dipandu penyiar RRI Bandung, Rizki Ramadan, ditanggapi sejumlah pendengar. Seluruh pendengar yang mengomentari melalui telepon menyatakan, berjejeranya spanduk dan baliho caleg di lokasi-lokasi publik membuat masyarkat antipati terhadap para caleg tersebut. Mereka juga melihat tidak banyak caleg yang langsung terjun ke masyarakat.
”Jujur saja samapai sekarang saya masih bingung mau memilih siapa, karena saya sama sekali tidak kenal caleg anggota DPRD dan DPR tersebut,”ungkap Mang Encu dalam komentarnya melalui telepon.
(RRI Bandung, 31 Januari 2009)
http://www.inn.co.id/berita_detail1.php?id=2570
http://www.guntursubagja.blogspot.com/
